PROFIL DESA WISATA







    Desa Manyarsidomukti dulunya berupa lautan yang sangat luas berdasarkan cerita turun temurun. Lautan itu digunakan sebagai jalur perdagangan antar Negara. Dulu ada pedagang dari Portugal yang melalui lautan itu dan singgah di Manyar, tepatnya di daerah Leran (sekarang Kubur Panjang). Akibat seringnya singgah di daerah Manyar, maka pedagang itupun mengenal gadis cantik yang bernama Siti Fathimah Binti Maimun dan akhirnya pedagang tersebut jatuh cinta pada sang gadis. Setelah memendam rasa yang cukup lama akhirnya pedagang tersebut mengungkapkan rasa cintanya namun sang gadis menolak. Dalam selang waktu yang cukup lama sang gadis mau menerima cinta pedagang itu dengan syarat ia harus menjawab sayembara yang dibuat. Sayang sekali ternyata pedagang dari Portugal tersebut tidak bisa menjawab sayembara yang dibuat. Akhirnya pedagang itu harus mengakhiri perasaan cintanya kepada Siti Fathimah Binti Maimun. 

Dari peristiwa itu akhirnya lama kelamaan ada dampaknya juga yaitu tidak ada orang yang mau melewati lautan itu sehingga tidak ada lagi kapal yang bersandar di sekitar Manyar. Lama kelamaan lautan itu menjadi dangkal dan akhirnya kering. Disana kemudian banyak disinggahi burung-burung kecil, lalu oleh warga sekitar burung itu dinamakan burung Manyaran. Akhirnya lautan yang kering itu dijadikan perkampungan oleh warga sekitar. Perkampungan itu dinamakan perkampungan Desa Manyar. Manyar diambil dari bahasa Jawa “Anyar” yang berarti baru. Oleh warga sekitar kata anyar tersebut diberi huruf “M” di depannya, maka jadilah Desa Manyar yang berarti perkampungan yang baru. Sejak saat itu Manyar selalu dalam keadaan yang ramai karena kicauan burung Manyaran yang hinggap di daerah Manyar. Desa yang semakin padat penduduknya akhirnya dibagi menjadi 3 Desa Yaitu Manyarejo, Manyarsidomukti dan Manyarsidorukun.

Desa Manyarsidomukti adalah salah satu desa diantara 23 desa yang ada di kecamatan Manyar Kabupaten Gresik. Desa Manyarsidomukti terdiri dari 2 RW yang terbagi dalam 9 RT. Desa yang terletak di perbatasan sebelah barat desa Manyarejo, sebelah Utara Desa Manyarsidorukun, sebelah Timur Desa Sukomulyo dan sebelah selatan Desa Manyarejo.


Bermula dari kejadian setelah tsunami Aceh tahun 2004, pada tahun 2005 nelayan Desa Manyarsidomukti di datangi mahasiswa & dosen pembimbing dari UGM untuk melakukan sosialisasi akan pentingnya menjaga kelestarian mangrove. Pada saat tsunami Aceh semua pohon tersapu habis dan hanya tersisa  mangrove serta desa yang berada di pesisir di belakang mangrove. Adanya mangrove sebagai peredam hempasan gelombang tsunami membuat dosen mengajak masyarakat nelayan untuk melestarikannya di sungai Kalimireng dan lanjut penanaman 2500 pohon mangrove.

Pada saat itu perairan Kalimireng mendapat kiriman air tawar dan enceng gondok dengan diameter 2 meter persegi tinggi 1 meter. Tidak adanya pagar pengaman membuat banyak bibit mangrove yang mati ditambah banyaknya mangrove yang ditebang oleh petani tambak membuat nelayan mulai putus asa.

Pada tahun 2007 datang lagi mahasiswa dan pembimbing dari ITS melakukan penanaman dan menanyakan sejarah ekosistem Kalimireng sebelum tahun 2007 dari para sesepuh nelayan. Mahasiswa berjanji untuk melakukan penelitian kehidupan mangrove yang mereka tanam tapi ternyata tidak ada realisasinya. Inisiatif dari sebagian kecil nelayan melakukan perawatan dan penyulaman mangrove yang mati. Adanya penebangan terus menerus dari petani tambak pesisir Kalimireng membuat nelayan putus asa lagi dan lagi.

Pada tahun 2010 ada 2 perwakilan dari nelayan yang di ikutkan study banding di Tahura Bali untuk belajar tentang tanaman mangrove dan ilmunyapun tidak bermanfaat.

Pada tahun 2014 ada pembukaan mega kawasan industri di pesisir Kalimireng memporak porandakan mangrove yang ada.

Setelah proyek mega kawasan industri yang melakukan reklamasi dn memanfaatkan sungai Kalimireng sebagai mobilisasi bahan baku proyek selesai di tahun 2016 masyarakat nelayan mulai sadar akan pentingnya manfaat mangrove yang telah porak poranda.

Nelayan kemudian membuat kelompok KKM (Kelompok Konservasi Mangrove) untuk merehabilitasi mangrove yang telah rusak dengan swadaya nelayan. Pada tahun 2017 atas saran dari Dinas Perikanan nelayan bergabung dengan POKMASWAS (Kelompok Masyarakat Pengawas) hingga penanamanpun terus berkelanjutan.

Pada tahun 2018 Dinas Perikanan Provinsi dan Kabupaten memberikan bantuan bibit mangrove dan POKMASWAS masih tetap melakukan penanaman dengan swadaya. Staf Dinas Perikanan Provinsi melihat potensi mangrove yang bisa dikembangkan menjadi wisata dan menyarankan Ketua POKMASWAS untuk membuat POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata).




Pada tahun 2019 penanaman masih berjalan dengan swadaya dan POKMASWAS dapat bantuan sarana dan prasarana transportasi untuk pengawasan berupa perahu dari Dinas Perikanan Provinsi melalui POKMASWAS Jawa Timur.

Pada tahun 2020 datanglah utusan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gresik menemui ketua POKMASWAS dan Pemerintahan Desa untuk membuat POKDARWIS karena potensi wisata sudah ada yaitu Ekowisata Kalimireng. 

Pada tahun 2021 POKDARWIS selain mengembangkan potensi wisata yang ada yaitu WISTAKON (Wisata Tambak Kulon) bersama Ibu-Ibu PKK mengembangkan potensi seni budaya batik bernuansa mangrove.


Pertama kali diperkenalkan melalui kegiatan PKK yang mendapat respon sangat baik dimana antusiasme peserta untuk mempelajarinya sangat tinggi hingga terbentuklah usaha yang diberi nama Rumah Batik "ADHIMUKTI BATIK". Di dalam nama Rumah Batik terselip kata dari nama Desa agar masyarakat di luar Desa selalu mengingat karya warga Desa Manyarsidomukti, Target pembelajaran Rumah Batik tidak hanya ibu PKK tetapi juga anak muda yang diharapkan menjadi penerus dan pengembang usaha dengan target pasar yang lebih luas.

Melalui pengembangan dan pelestarian potensi alam yang dijadikan Obyek Daya Tarik Wisata banyak sekali manfaat yang di dapat masyarakat diantaranya penambahan perekonomian keluarga, mengurangi polusi dari industri di sekitar Desa, terbukanya lapangan kerja baru. Salah satu souvenir yang ditawarkan di Wisata adalah Batik dengan motif khas Wisata Mangrove dimana karya lebih dominan tumbuh-tumbuhan Mangrove.


Komentar